My True Story: Itu Kuntilanak Apa Layangan ya? Kok Serem..


Dari kecil, aku punya kebiasaan nekat dan suka pergi sendirian, kemanapun. Pernah suatu sore, diusiaku yang masih 4 tahun, aku pergi dari rumah tanpa memberitahu abang-abangku. Alasanku pergi adalah untuk mencari ibu. Sebagai balita, aku cemburu ibu pergi hanya mengajak adikku saja, sementara aku tak diajak. Padahal ibu tak mengajakku karena saat itu aku belum mandi, alasan yang sebenarnya sungguh simpel kalau dipikirkan pada logika orang dewasa. Aku lalu berinisiatif untuk menyusul ibuku yang sebenarnya aku tak tahu dimana. Tanpa alas kaki, kumal, rambut acak-acakan, dan belum mandi, aku pergi berjalan sampai ke desa sebelah. Seingatku waktu itu magrib, aku keliling-keliling gang desa sebelah mencari ibuku, sampai aku ditemukan oleh pamanku yang tinggal di desa itu.
Aku lalu dibawa pulang oleh pamanku, sampai di rumah sudah malam. Di rumah kelihatan ramai oleh tetangga yang kebingungan atas hilangnya aku, dan ibuku yang panik menangis. 
Ibu sudah pulang, pikirku. 
As a baby, tujuanku hanya satu, ingin bersama ibu. Setelah dewasa, kupikir seorang anak di masa-masa usiaku itu memang sangat butuh kedekatan dengan orang tuanya.
Kebiasaanku yang suka bepergian sendiri, sepertinya sudah mendarah daging. Aku sangat suka berpetualang ke kebun-kebun dan area persawahan sendirian. Menikmati beningnya air sungai, duduk di atas batu di pinggir kali sendirian sambil melihat ikan-ikan sungai, kadang-kadang aku pergi ke sebuah tempat di dekat sawah dengan membawa komik. Duduk di atas potongan kayu sambil memandangi persawahan yang sejuk sekaligus membaca. Aku suka membaca, itu juga kebiasaanku dari kecil. Kadang-kadang aku memanjat pohon belimbing di samping rumah sambil membawa buku. Entah kenapa aku sangat nyaman dengan kesendirianku. Mungkin benar bahwa aku adalah seorang introvert.
Saat mulai beranjak SMA, aku punya kebiasaan baru. Aku sangat suka keluar malam. Tapi bukan keliaran di jalan. Aku hanya duduk di atas atap rumah sambil memandangi bintang-bintang di langit. Lama, aku senang melihat langit malam yang cerah. Karena waktu kecil aku sering membaca buku tentang alam semesta yang menceritakan tentang rasi bintang dan planet-planet. Sampai suatu hari, di tengah malam aku terbangun. Dari jendela kaca kamarku yang tertutup gorden tipis, terlihat cahaya bulan yang indah. Cahaya bulan itu menembus gorden kamarku dengan bentuk bulat bulan sempurna. Saat itu, keadaan lampu kamar kumatikan. Lampu kamarku selalu kumatikan ketika tidur.
Karena penasaran, aku pun beranjak bangun dan membuka gorden kamar, untuk melihat bulan purnama yang indah itu.
Setelah kubuka gorden, kebetulan di depan kamarku terdapat pohon jambu air yang lumayan rimbun. Dibalik pohon jambu, kelihatan bulan yang sangat indah sekali. Lama aku menatap bulan itu sampai akhirnya ada sebuah pemandangan yang menggangguku di atas pohon.
Sebuah bayangan putih terlihat lewat dari atas pohon dengan santainya. Menuju atap rumahku.
Layangankah? Kupikir tengah malam begini siapa yang mau main layangan, warnanya putih pula.
Sesaat aku terpaku, aku baru sadar kalau itu bukanlah layangan, tapi..
"Setan.." Gumamku
Aku langsung menutup gorden dan membanting tubuh ke ranjang. Kututupi semua tubuhku dengan selimut. Dengan perasaan deg-degan, aku mencoba memejamkan mataku. Sialnya, aku dapat mendengar suara detak jantungku sendiri saking takutnya.
Akupun langsung berpikir macam-macam. Jangan-jangan setan itu mau menakutiku, mau masuk ke kamarku, tembus dari atap plapon, dan menunjukkan wajah seramnya padaku.
Perlahan kubuka selimutku, mengecek keadaan kamar. Gelap, karena lampu kamar tidak kuhidupkan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan lain selain aku. Aku pun menghela napas panjang, lega. Ternyata setan itu tidak menggangguku. Akhirnya aku tertidur kembali.
Besoknya aku ceritakan kejadian itu kepada temanku yang sekaligus menjadi tetanggaku. Ternyata memang di depan rumahku itu adalah tempat lalu lalangnya kuntilanak. Sudah banyak tetanggaku yang melihatnya.
Oh, pantesan..pikirku. 
Sejak saat itu, aku berpikir dua kali kalau mau membuka gorden kamar di malam hari. Tapi untuk melihat langit malam, aku tidak pernah kapok.


(Tulisan ini sengaja kubuat bertele-tele, supaya panjang.)


Tidak ada komentar